Home » Ceplas Ceplos » Tukang Palak

Tukang Palak

UntitledOleh : Usdar Nawawi

BugisPos — Tukang palak ialah seseorang yang suka memalak. Kerjanya memalak orang. Bukan memalak monyet. Meminta sesuatu kepada orang lain yang biasanya berupa uang dengan cara-cara memaksa. Memalak dapat dipahami sebagai bahasa lokal yang diartikan berupa sebentuk pemerasan dengan ancaman-ancaman tertentu.

Anggaplah apa yang menjadi awal tulisan ini sebagai pelajaran bahasa lokal. Bahasa yang bersumber dari bahasa daerah Makassar yakni pappala-pala atau peminta-minta. Pappala-pala kemudian berubah menjadi tukang palak yang dibalut dengan gaya pemerasan.

Istilah tukang palak memang tiba-tiba menjadi semakin populer di Makasssar, lantaran kedatangan Kapolri Jenderal Tito Karnavian melakukan kunjungan kerja di Sulawesi Selatan.

Tito menegaskan,  image dan perilaku polisi yang buruk harus segera dihilangkan. Tito tidak menampik bila masih ada polisi yang kerap memalak masyarakat. Bahkan boleh jadi masih banyak juga berlangsung sejenis  ’setoran rutin’ dari masyarakat ke oknum-oknum polisi kita, yang mungkin dengan latar rasa takut bila ‘setoran rutin’ itu tak dijalankan sebaik-baiknya.

“Berhentilah jadi tukang palak dan tukang peras,” tegas Tito, yang tentu dimaksudkan untuk  jajaran kepolisian di negeri ini. Jenderal Tito Karnavian bertegas, polisi tidak boleh menjadi momok bagi masyarakat. Polisi, kata Tito, tidak boleh menjadi layaknya hama yang membikin resah masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat bilang ‘itu ada penyakit datang’ kalau melihat polisi,” kata Tito saat memberi pengarahan kepada perwira di jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Selasa 23 Agustus 2016.

Sikap Jenderal Tito ini patut memang diapresiasi oleh seluruh masyarakat di Sulsel. Masyarakat tentu mendukung sepenuh hati pernyataan kapolri ini. Dan tentu saja juga sangat didukung oleh jajaran kepolisian kita yang tercinta di daerah ini, betapapun dahi mesti berkerut.

Berbuat kebaikan dalam konteks pelayanan ke masyarakat, memang diperlukan modal ketulusan. Kalau guru dipandang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, maka mengapa polisi kita juga tak bisa dipandang sebagai pahlawan tanpa pamrih. Sebab kalau semua serba pamrih maka namanya pasti bukanlah pahlawan.

Namun kita semua tentu berharap, mudah-mudahan apa yang diungkapkan kapolri itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi di Sulawesi Selatan. Polisi kita di daerah ini tentunya semua baik-baik saja, semua bersih-bersih saja. Jauh dari karakter tukang palak. Semoga ***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

pdam
royal
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com