Home » HL » Peristiwa Toko La dan Pa’baeng-baeng Jangan mi Terulang

Peristiwa Toko La dan Pa’baeng-baeng Jangan mi Terulang

Walikota Danny Pomanto

Walikota Danny Pomanto

BugisPos – Kota Makassarpernah duakalirusuh karena pengganyangan Cina. Kerusuhan ini terjadi tahun 1997 akibat seorang anak perempuan sepulang mengaji di sekitar Pa’baeng-baeng dibunuh oleh pria keturunan Cina, yang ternyata pria ini mengalami gangguan jiwa. Sejumlah gedung dan toko milik Cina dibakar. 20 tahun sebelumnya terjadi peristiwa Toko La. Pembantu di toko ini asal Toraja hamil dan dibunuh oleh majikannya, Makassar juga rusuh pada waktu itu.   

Dua peristiwa ini sebenarnya menjadi trauma di Makassar dan menjadi catatan penting dalam sejarah Makassar. Dan tentunya wajib diwaspadai jangan sampai terjadi yang ketiga kalinya. Etnis Cina hendaknya mampu membaur dengan warga asli Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang bermikim di Makassar, sebagaimana contoh warga keturunan Cina di Bantaeng yang sudah kawin-mawin dengan warga asli setempat.

Menyikapi hal ini utamanya terkait kasus Ahok di Jakarta dan dampaknya yang coba menjalar ke Makassar dengan aksi bakar lilin, memang sangat dikhawatirkan jangan sampai kembali memicu konflik etnis di Makassar setelah sepuluh tahun peristiwa Pa’baeng-baeng.

Terkait hal itu, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto mengumpulkan ratusan tokoh lintas agama, Ormas dan tokoh pemuda dan mahasiswa di kediaman pribadinya, Selasa malam (16/5/2017). Pertemuan ini dilakukan untuk mengantisipasi kerawanan dan demi menjaga Makassar dari imbas politik pasca Pilgub DKI Jakarta.

Dalam pertemuan itu, turut hadir Kapolrestabes Makassar, Kapolres Pelabuhan, Kajari Makassar, Dandim 1408 BS, anggota DPRD Makassar, dan Ketua MUI Makassar.

Seluruh tokoh serta ormas keagamaan dari agama Islam, Keristen Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu juga hadir di pertemuan itu. Mereka sepakat membangun komitmen bersama demi Makassar yang senantiasa aman, damai, serta tidak gampang tersulut provokasi pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Apa pun yang terjadi di Jakarta atau di daerah lain, Makassar harus tetap aman. Kita punya sejarah kelam yang tidak boleh lagi terulang. Makassar jangan mundur lagi ke belakang,” kata Danny.

Di masa lalu, dua peristiwa konflik besar melibatkan etnis pernah pecah di Makassar. Salah satunya terjadi di tahun 1997 yakni etnis Tionghoa dan Bugis-Makassar yang merupakan sejarah kelam kerukunan di kota ini. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran bersama sehingga semua sepakat menjaga agar tragedi tersebut tidak terulang kembali.

“Makassar adalah rumah kita bersama. Supaya orang paham kota ini tidak seperti hotel yang datang check in, check out lalu ditinggalkan,” katanya.

Sehingga, kata Danny, orang yang memahami Makassar sebagai rumah bersama akan saling menghargai dengan berpegang teguh pada nilai- nilai leluhur budaya Makassar sipakatau (saling menghargai), Sipakainga (saling mengingatkan), dan Sipakatau (saling menghormati).

Sementara itu Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Endi Sutendi mengaku lega dan sangat mengapresiasi melihat solidnya berbagai ormas, tokoh agama, dan berbagai elemen yang hadir.

“Ini membuktikan bahwa semua masyarakat dari berbagai elemen, suku, agama, dan ras cinta kedamaian Makassar. Alhamdulillah saya sudah 5 bulan di sini, situasi Makassar tetap kondusif,” katanya.

“Jangan kita mau diadu domba dan tentunya pengalaman masa lalu jangan sampai terulang kembali karena dampaknya yang tersakiti adalah kita sendiri warga kota Makassar,” pungkas Endi (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

pdam
royal
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com