Home » Ceplas Ceplos » Memadu Cinta di Tanjung Bira

Memadu Cinta di Tanjung Bira

Oleh : Usdar Nawawi

Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos —  Sesungguhnya saya sangat kecewa atas kondisi objek wisata Tanjung Bira di Bulukumba yang sekarang. Bayangan saya bahwa di Tanjung Bira ini telah setiap hari dipenuhi turis manca negara dan mengalahkan pantai Kuta di Bali, ternyata Cuma isapan jempol belaka. Kehadiran turis di Bira hanya dihitung jari saja, padahal pasir putih pantai Bira jauh lebih bagus karena dingin, dibanding pasir pantai Kuta yang panas menyengat pantat.

 

Di Kuta setiap turis harus menghabiskan waktu paling kurang sepuluh hari untuk berjemur di pantai. Sebab pasir Kuta pasir asli, bila turis berjemur sampai matahari tegak jam 12,00 siang, maka pantat mereka kepanasan dan pastilah cepat meloncat pergi bernaung di hotel atau dimana sajalah. Nantilah sore baru acara “sumur” (istilah Makassar : susu berjemur) mereka lanjutkan.

 

Tetapi bila berjemur di pantai Bira, para turis hanya menghabiskan waktu tiga hari warna kulit mereka segera berubah jadi cokelat. Dari segi ekonomi mereka sudah berhemat. Artinya, lebih mahal berjemur di Bali dibanding di Bira. Kehebatan Bira ialah, pantainya ditutupi batu karang yang halus seperti tepung terigu yang merupakan hasil kikisan karang dasar laut yang naik ke pantai menjadi sejenis pasir putih. Rasanya sangat dingin walaupun matahari tegak di jam 12.00 siang, maka turis bisa berjemur dari pagi jam 10 hingga sore tanpa henti. Itu hebatnya Bira yang sayang sekali sebab kondisi ini tak cukup dipromosikan ke manca begara. Entah Pemprov Sulsel atau Pemkab Bulukumba sudah paham atas kelebihan Bira ini atau tidak, atau hanya pura-pura saja tak paham. Apa perlu telinga pak kepala dinas pariwisata dicelok-colek ya ? Hehe …

 

Turis memang datang ke negara tropis seperti Indonesia terutama untuk mengubah warna kulit mereka jadi cokelat. Mereka bangga kalau kulitnya jadi cokelat karena di kampung mereka akan diberi jempol sebab mereka terbukti telah datang ke daerah tropis berjemur.

 

Celakanya, sebab ternyata Bira bukannya dijejali turis asing, tapi malah dipenuhi turis lokal, yang bahkan telah merajut cerita panjang bila para turis lokalan banyak yang hanya datang ke Bira memadu cinta kamar-kamar hotel dan penginapan. Ah entar Satpol PP menggerebek lageee.

 

Mereka dibilang mau juga berjemur di pantai itu nonsenslah. Orang sudah kulit cokelat mau berjemur apa tidak jadi jadi arang ?

 

Itulah Tanjung Bira yang menyedihkan. Tahun 1974 pantai Bira ini dutemukan seorang peneliti Australia. Meneliti biota laut tapi juga menemukan pasir Bira yang hebat, dingin, yang sesunggunya sangat dibutuhkan turis untuk menghemat biaya karena waktu “sumur” yang cukup singakat. Tak ada pantai seperti di Bira, yang permukaannya ditutupi kikisan karang. Ini akibat adanya perputaran air laut deras tembus ke perut bumi di antara laut Bira dan Selayar ***

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

pdam
royal
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com