Home » Profil » Irwan Adnan Kejar PAD Rp2 Triliun

Irwan Adnan Kejar PAD Rp2 Triliun

3BugisPos – Drs.H.Irwan Rusfiadi Adnan,M.Si, disebut kepala SKPD termuda di eselon dua lingkup Pemkot Makassar,  karena putra almarhum H.Andan Machmud mantan ketua DPRD Makassar ini, adalah kelahiran tanggal 3 Maret 1971. Usianya baru berjalan 35 tahun. Ini luar biasa, dan ternyata Irwan dinilai mampu menduduki kursi Asisten 2 Bisang Ekonomi Pembangunan yang dipercayakan Walikota Moh Ramdhan Pomanto kepadanya dengan ukuran hasil lelang jabatan.

Sebelumnya, Irwan dipercaya oleh Walikota Ilham Arief Sirajuddin nenduduki jabatan Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Makassar. Dan kini Irwan dipercaya oleh Walikota menduduki jabatan Kepala Dinas Pendapatan Kota Makassar, selain dia juga disibukkan dengan tugas maha berat sebagai Timpro yang mesti menggenjot program kebesihan kota. Artinya, Irwan kini sedang berada pada posisi di antara mengejar target PAD Rp1 triliun sebagai Kepala Dinas Pendapatan, dan mengejar porsi kebersihan kota untuk meraih Adipura Paripurna 2017 pada posisi tugas sebagai Timpro. Ini sesungguhnya adalah tugas maha berat, namun bagi Irwan seperti yang dia akui kepada penulis, bahwa bentuk apapun tugas itu dari pimpinan harus dijalankan sebagai suatu konsekwensi jabatan.

Bagi Irwan, jabatan ataupun tugas-tugas lainnya yang dipercayakan pimpinan ke pundaknya, itu adalah amanah dan kepercayaan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Sebab setiap tugas dan tanggung jawab yang dibebankan oleh pimpinan hal itu adalah sebuah kehormatan, kepercayaan, dan juga adalah ibadah bagi seorang yang beragama.

Bagi Irwan, mengejar target PAD kot Makassar sebesar Rp1 triliun ternyata memang bukan hal gampang. Tetapi karena kerja keras di jajarannya yang luar biasa tanpa lelah, Irwan agaknya PAD lebih dari Rp1,3 triliun dapat dicapai dengan enjoy.

Bagi Irwan dalam mencapai target PAD, cukup dengan intens melakukan komunikasi dengan jajaran bawahan yang langsung berhadapan dengan wajib pajak, maka apa yang dikerjakan itu akan membuahkan hasil yang baik. Memang di awal Irwan menduduki jabatan Kadis Pendapatan, pola-pola lama dia ubah secepatnya sehingga etis kerja di jajarannya menjadi terdongkrak luar biasa. Irwan memang selama ini dalam menjalankan tugas-tugas jabatannya tak menyukai bawahan yang terbiasa carmuk-carmuk atau cari-cari muka. Yang dia sukai adalah bawahan yang punya etos kerja yang baik, jujur, dan mampu menjalankan tugas-tugas pelayanan yang baik.

Irwan yang kini berpangkat Pembina Tk.I IV/b, memulai kariernya di Pemkot Makassar sebagai pegawai kontrak di Bagian Pemerintahan. Tiga tahun kemudian, 1989, Irwan diangkat PNS dan ditempatkan di Dinas Pengawasan Bangunan (Wasbang) yang sekarang berubah nama jadi Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB). Dia ditugaskan di Bidang Pengusutan, dan selanjutnya sempat dipercaya jadi Kepala Wilayah 2 Wajo, Panakkukang dan Manggala bidang Pengusutan dan Pengawasan.

Tahun 2001, Irwan diangkat jadi Kasi Pengukuran di pada Sub Dinas Pengukuran pada zaman Riefad Syuaib jadi Kadis DTRB. Selanjutnya dia dipercaya jadi Kasi Bidang Pengendalian dan Pengawasan Bangunan. Sesudah itu, Irwan kemudian menjabat Kabid Peruzinan Bangunan, sampai akhirnya dipercaya menduduki jabatan Kepala DTRB Kota Makassar. Sepanjang karier Irwan dihabiskan di DTRB hingga mencapai jabatan puncak, bahkan pernah lima tahun dipercaya jadi Pimpro di DTBR. Ini tentu adalah sebuah prestasi yang luar biasa, apalagi dengan usia yang masih muda. Sekitar 10 tahun Irwan bergelut di lapangan, mulai dari membawa palu membongkar bangunan yang melanggar IMB hingga jadi sopir dan yang lainnya, demi meniti karier di DTRB.

Irwan tamat di SD Mangkura tahun tahun 1984, lulus SMP Datu Museng tahun 1987, selesai di SMAN 4 Cakalang tahun 1990. Selesai di Sospol Unhas jurusan Administrasi tahun 1995. Tahun1996 masuk di Manajemen Perkotaan. Di institusi ini Irwan menyusun tesis tentang penyimpangan IMB, dengan objek penilitian tentang penyimpangan IMB di Bumi Antang Permai (BAP) Makassar. Di kompleks ini, Irwan menemukan fenomena dimana masyarakat banyak merenovasi rumah Perumnas tanpa dilengkapi IMB. Mereka akhirnya banyak melakukan penyimpangan atas garis sempadan. Kajian tentang penyimpangan IMB ini dilihat Irwan dari aspek arsitektur terluar, artinya bangunan pada posisi garis sempadan. Menurut Irwan, warga BAP merenvasi rumah karena merasa sudah ada IMB Perumnas. Padahal aturannya, setiap merenovasi rumah mesti ada IMB baru sebagai pengembangan bangunan. Rupanya, banyak warga yang tidak paham aturan ini, aparat pengawasan juga kurang aktif di lapangan. Selain itu, ada juga warga yang sudah tahu aturannya tapi enggan mengurus IMB. Irwan kemudian lulus tahun 2000 dengan nilai A. Harusnya Irwan mendapat gelar cumlaude.

Tugas Kedispendaan

Kini Irwan memang sudah tak berfikir lagi soal IMB, tetapi sudah melanglangbuana ke persoalan PAD Kota Makassar plus berfikir soal kebersihan kota dalam konteks tugasnya sebagai Timpro.

Dalam konteks selaku nakhoda Dinas Pendapatan Kota Makassar, Irwan yang sebenarnya tidak punya pengalaman di Kedispendaan, ternyata dia dalam waktu singkat sekali mampu memenej jajarannya di Dispenda untuk melakukan kerja-kerja yang terbaik.

Dan ternyata Dispenda di tangan Irwan mampu bergerak maju, ditandai dengan kesadaran para wajib pajak yang datang menyelesaikan kewajiban pajak mereka, yang sesungguhnya selama ini banyak yang menunggak pajak, seperti pajak hiburan, pajak hotel, pajak restoran, pajak air bawah tanah, pajak reklame, pajak parkir, serta retribusi dan pendapatan lainnya.

Prinsip Irwan dalam memimpin Dinas Pendapatan, pergerakan di palangan harus memberi keseimbangan antara target pendapatan dengan kondisi usaha para pengusaha. Irwan berpendapat, pengusaha harus diberi ruang yang longgar untuk berbisnis dan pengawasan yang humanis dalam penyetoran pajak. Hal ini sejalan dengan sistem yang berjalan secara nasional yakni menghitung pajak sendiri atau self asesment. Pola self assesment ini harus sejalan dengan penetapan target PAD setiap tahun dan tingkat kemampuan pengusaha membayar pajak.

Pengusaha sebagai mitra kerja Dispenda memang mesti dirangkul sebaik mungkin, sehingga dalam proses setoran pajak dan retribusi untuk mencapai target PAD, tidak menemui kesulitan yang berarti. Komunikasi antara jajaran Dispenda dengan pengusaha mesti berjalan baik. Bahkan harus tercipta di antara pengusaha dan Dipenda sebagai dua sahabat yang baik dan humanis, apalagi dengan kondisi kekinian dimana kondisi ekonomi yang terpuruk sangat mempengaruhi tingkat kemampuan pengusaha dalam membayar pajak dan retribusi.

Bagi Irwan, bila semua ini berjalan dengan baik, apalagi dengan manajemen yang baik pula dalam konteks intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, maka dalam mengejar PAD Rp2 triliun akan tidak terlalu sulit.

Meskipun Irwan Idnan keseharian dengan kesibukan yang luar biasa, namun dia tak pernah mengesampingkan keluarga. Justeru semangat kerja Irwan sangat didukung oleh keluarga, oleh sang isteri dan anak-anaknya.

Irwan pempersunting wanita tercinta, Hj.Rezeki Dardi Irwan,S.Sos, dan kini dikaruniai tiga anak, yakni Muh Nibraas Rezwa Adnan, Nadia Rezwanda Adnan dan Naura Rezwanda Adnan (Usdar Nawawi)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

pdam
royal
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com