Home » Ceplas Ceplos » Cerita Tentang Punggawa

Cerita Tentang Punggawa

Oleh : Usdar Nawawi

Oleh : Usdar Nawawi

BugisPos – Punggawa, yang artinya lebih kurang adalah seorang yang memimpin, model dan bentuknya begitu banyak kita bisa temukan dalam kehidupan keseharian. Sebuah kelompok, baik itu kelompok masyarakat manusia, kelompok masyarakat hewan, bahkan kelompok benda yang bernama tumbuh-tumbuhan, demikian sulit dipisahkan dari ciri kepunggawaan. Dan punggawa itu sendiri dimata kelompoknya, tak lain adalah sebagai pemimpin, pembimbing, dan pelindung.

Kalau kita bicara tumbuh-tumbuhan, memang punggawanya tidak perlu mereka pilih dan lantik dengan segala model acara dan bau sumpah. Cukup sebatang pohon yang tumbuh paling besar atau paling tinggi dari segala merek tumbuhan di sekitarnya, maka dialah punggawanya kelompok pohon yang terdapat di sekitar itu. Hebatnya, dari kelompok ini tidak pernah kita dengar adanya keributan di soal pemilihan punggawa. Dan mereka memang tak perlu berkelahi memperebutkan tahta kepunggawaan.

Dalam masyarakat hewan, dalam sejarahnya justru terbalik. Ributnya bukan main kalau kelompok ini lagi mencari punggawa. Maka itulah ada yang digelar raja rimba, penjaga sungai, atau burung hantu yang ditakuti setengah mati oleh barisan mahluk yang bernama tikus.

Dalam konteks masyarakat manusia, punggawa dengan segala model dan gayanya. Dengan segala warna dan kondisinya. Atau segala irama dinamikanya; punya sejarah yang sangat panjang. Bahkan kalau kita mau diskusikan tujuh hari tujuh malam, agaknya belum juga bisa tuntas-tuntas.

Punggawa dalam sejarah manusia sepanjang abad, selalu ada dan akan selalu ada hingga dunia ini tiba pada hari kiamat. Kalau ada yang menolak anggapan ini, silahkan SDP ke redaksi. Sebab sistem kepunggawaan adalah bagian penting dari struktur masyarakat. Yang dipersoalkan orang, adalah cara-cara yang dilakukan dalam mencari dan memilih punggawa itulah. Dan selama ini, ada punggawa yang tampil karena uang, karena kekuatan fisik, karena keturunan, karena pangkat dan golongan, atau karena dia seorang yang diterima semua pihak. Atau, karena dalam suatu kejadian tertentu, seseorang tampil sebagai penyelamat, dan jadilah dia punggawa.

Terlepas dari proses atau sejarah munculnya seorang punggawa, dimanapun, atau dalam kondisi apapun, ternyata ada minimal empat faktor yang dia mesti punyai; yakni wibawa, kepandaian, kejujuran, dan moral yang baik.

Bahkan yang disebutkan terakhir, akhir-akhir ini sungguh besar pengaruhnya, bahkan cukup berpengaruh belakangan ini di negara-negara barat, semisal Amerika Serikat. Moral rupanya agaknya sedang mulai disadari peranannya dalam diri seorang punggawa. Lalu kembali kita ingat, bahwa seorang punggawa bisa runtuh karena moral.

Tetapi mohon maaf sebesar mungkin, bahwa tulisan ini sungguh samasekali tak bermaksud menyebut tagline “Punggawa” yang bertengger di pundak sosok Ichsan Yasin Limpo yang menjadi satu di antara sekian figur yang sedang berjuang menuju kursi gubernur Sulsel. Bahkan saya merasa juga layak mendoakan semoga pak IYL kiranya dapat menggantikan SYL memimpin Sulawesi Selatan, bila rakyat daerah ini menentukan pilihan baginya. SEMOGA ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

pdam
royal
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com