Home » Opini » Bahasa Indonesia di Simpang Jalan

Bahasa Indonesia di Simpang Jalan

Oleh: Dr H A RivaiPakki (Dekan FIK UI Makassar)

Dr HA Rivai Pakki : “Penggunaan bahasa Indonesia mulai berada di simpang jalan. Bahasa Indonesia bukan lagi menjadi bahasa komunikasi di negaranya sendiri, malah menjadi tamu di tempat kelahirannya”.

TOKOH-tokoh pencetus Sumpah Pemuda 28 Oktober 1908 patut diacungi jempol atas kearifan dan visionernya yang begitu maju. Mengapa tidak! Kala itu tanda-tanda kemerdekaan RI masih dalam impian.Tidak ada satu orang pun bisa memprediksikan kapan kemerdekaan itu bisa diraih. Tapi mereka sudah mampu membaca tanda-tanda zaman. Salah satu diktum dari tiga poin sumpah pemuda yakni Berbahasa Satu Bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Melayu.

Padahal waktu itu, semua daerah – utamanya suku Jawa – kental dengan bahasa daerahnya. Sementara bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa nasional kita hanya merupakan bahasa sehari-hari suku Melayu di Pulau Sumatera. Tidak heran di era pemerintahan Orde Lama, Presiden Soekarno – walau fasih berbahasa Inggris, malah pernah dikagumi Presiden John F Kennedy tatkala dia berpidato berbahasa Inggris di MU PBB – Bung Karno tidak pernah mau berpidato dengan bahasa Inggris di Indonesia. Nama-nama berbahasa asing diinstruksikan untuk di-Indonesia-kan.
Sayang, kebanggaan ini mulai pudar seiring berhasilnya negara-negara barat mengekspor globalisasi dari segala sudut kehidupan kita. Penggunaan bahasa Indonesia mulai berada di simpang jalan. Bahasa Indonesia bukan lagi menjadi bahasa komunikasi di negaranya sendiri, malah menjadi tamu di tempat kelahirannya.Tidak seperti salah seorang peraih hadiah Nobel Fisika – sebagaimana ditulis mantan Mendikbud, Daoed Joeseof di Kompas–Dia tidak pernah mau menggunakan bahasa Inggris dalam memublikasikan karya ilmiahnya.Selalu memakai bahasa Jepang, akhirnya diakui secara mendunia.
Bedanya Jepang dengan kita, Negara Sakura itu salah satu raksasa di bidang ekonomi. Sesuatu yang serba dilematis. Wajarlah kalau ada sekolah internasional di Tanah Air, sudah menomorduakan bahasa Indonesia. Kenapa? Untuk mencari pekerjaan – apalagi di luar negeri – sudah pasti harus menggunakan bahasa Inggris. Diplomat kita yang akan berbicara pada SU atau DK PBB, harus memakai bahasa internasional, minimal bahasa Inggris, kendati ada beberapa bahasa internasional yang diakui PBB, tapi bukan bahasa Indonesia. Perusahaan-perusahaan nasional dalam merekrut pegawai semuanya mengisyaratkan kemampuan bahasa Inggris. Presiden SBY manakala berpidato pada pertemuan bertaraf internasional di Indonesia, kerap menggunakan bahasa Inggris.
Sementara kebijakan pemerintah pun bergeser. Sekolah bertaraf internasional memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Lembaga-lembaga negara ada memakai bahasa asing, sebutlah Lembaga Ombudsman. Bertebaran nama toko dengan menggunakan bahasa Inggris: Alfamart, Indomart, Mal Ratu Indah, Lotte Mart, Mal Panakukang, KFC, McDonald. Media massa elektronik – termasuk media yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam istilah-istilah acaranya kerap menggunakan bahasa asing. Sebutlah Top News Metro TV, breaking news, live, TV One news sport, headline news.
Ada juga stasiun TV rutin menayangkan siaran berita berbahasa China, kendati wargaTionghoa di Indonesia lebih sedikit dibanding warga pesantren yang mampu berbahasa Arab, kendati diakui merekalah yang menyetir perekonomian kita. Di satu sisi mengajarkan kepada kita bahasa Inggris secara tidaklangsung, di sisi lain keberadaan bahasa Indonesia kian terpinggirkan.
Nah di hari ulang tahun Sumpah Pemuda yang baru berlalu beberapa hari lalu, haruskah kita menyepelekan ikrar sumpah pemuda yang mengilhami persatuan bangsa?Apalah artinya keberadaan kita sekarang, kalau semua serba asing “minded”. Mungkinkah orang Hong Kong misalnya menghargai bahasa Indonesia di negaranya?
Sementara produk luar negeri dengan berbagai jenis, membanjiri pasaran Indonesia. Garam pun rutin diimpor, tanpa ada kajian betulkah daerah penghasil garam di Jeneponto, Sampang, Cirebon, NTT dan sejumlah daerah lainnya, tidak mampu memproduksi sesuai kebutuhan penduduk Indonesia?
Apakah garam bukan makanan pokok seperti beras atau gula pasir yang dikonmsumsi banyak. Pesawat China yang belum bersertifikat internasional dibeli perusahaan penerbangan Merpati dengan jumlah banyak, ketimbang membeli produk IPTN yang telah diakui dunia barat. Ironisnya RRC sebagai produsen pesawat tersebut baru menggunakan lima buah. Bandingkan dengan Merpati berjumlah 15 buah.
Ironisnya lagi, salah satu andalan devisa negara nonmigas ialah mengirim TKW ke berbagai negara, sebagai pembantu rumah tangga. Yang menjadi pertanyaan kadang TKW tersebut bekerja di beberapa negara yang notabene pendapatan perkapita negara bersangkutan sama dengan kita. Begitu rendahnya nilai kemerdekaan kalau pemerintah membiarkan TKW bekerja di luar negeri dengan status PRT.
Padahal pergerakan kemerdekaan kita bermula dari rasa nasionalisme yang tinggi. Yang dibarengi dengan syiar Islam seantero nusantara. Motivasi ke-Islam-an ini seiring dengan misionaris yang dikembangkan penjajah. Tanpa itu, sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa ini, yang telah dijajah 3,5 abad oleh Belanda, Inggris, Portugis. Jangan heran di zaman penjajah, salah satu upaya mereka mengebiri rasa nasionalisme dengan mengajarkan bahasa Belanda kepada kalangan tertentu yang punya pengaruh di tengah masyarakat.
Sekarang ini, negara-negara maju memberi beasiswa kepada segelintir mahasiswa untuk belajar di negaranya. Hasilnya kita lihat, bagaimana sejumlah alumnus negara-negara kapitalis, menjadi pioner penerapan perekonomian liberal tatkala mereka pulang ke neganya. Jadilah sejumlah BUMN yang notabene tidak pernah rugi atau menjadi industri strategis, dijual sahamnyake negara kaya. Sama seperti pabrik-pabrik semen se Indonesia milik BUMN, Telkomsel, Indosat, PT Pelabuhan Tanjung Priok, dll.
Indonesia diakui oleh dunia barat yang berkepentingan dengan liberalisasi, lebih liberal dari negara kapitalis manapun. Bila rasa nasionalisme sudah tergerus denganprodukluarnegeri – pertanda buruk bagi bangsa ini. Masih segar dalam ingatan kita tatkala IMF memerintahkan PresidenSoeharto melikuidasi 17 bank nasional, lalu ditalangi dengan dana BLBI. Apa lacur. Dana dengan nilai tak kepalang tanggung itu, bukannya diperuntukkan untuk menyehatkan banknya, tapi dikorup dan bersembunyi di Singapura maupun di Australia tanpa bisa disentuh hukum.
Kenapa?Karena mereka mempunyai bahasa nenek moyangnya yang memungkinkan mudah pindahke negara yang serumpun mereka. Rasa nasionalismenya tidakada. Gap antara konglomerat dengan kalangan rakyat miskin, kian menganga karena dianutnya asas kapitalis dalam sistem perdagangan kita.
Nah, kalau rasa nasionalisme mulai luntur, mungkin secara fisik kita tidak terjajah, tapi secara ideologis tersembunyi dan secara ekonomi menjadibudak Negara kaya yang sekuler. Sekarang sudah mulai dirasakan dari segala sektor kehidupan, sampai budaya Barat yang ditolak kalangan agamawan/Islam, dituduh melanggar HAM. Syukurlah karena sekarang ini tidak ada invasi dari negara barat seperti terjadi di Irak, Afganistan, Palestina. (sumber : FAJAR online/gafar)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 
Jl.Lasuloro Dalam VI/37 Bumi Antang Permai, Makassar 90234
Tlp 0411-2033633-491980 / 085242553333
Email : redaksi@bugisposonline.com